January 7, 2017

Harga Serba Naik, Begini Tips Keuangan Yang Harus Dikuasai

 Awal tahun baru ini, resolusi lebih irit menggunakan uang sepertinya harus masuk daftar resolusi 2017. Bagaimana tidak, belum sepekan merasakan tahun baru, sudah ramai pengumuman kenaikan harga dan tarif.

Mulai penghapusan subsidi listrik pelanggan 900 volt ampere (VA) yang ujungnya tarif makin mahal, juga pengumuman kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-Premium Rp 300 per liter. Tarif pelayanan publik seperti pengurusan surat kendaraan bermotor yang naik tiga kali lipat.


Bagi Anda yang perokok, per awal tahun ini juga Pajak Pertambahan Nilai (PPN) rokok naik menjadi 9,1% dan cukainya sepanjang tahun ini naik 10,54%. Memang sih, para produsen rokok belum menentukan berapa kenaikan harga rokok yang akan dibebankan pada konsumen. Tapi, mendatang, harga rokok bisa jadi lebih mahal.

Tak ayal, kenaikan biaya dan ongkos akan berdampak pada kocek. Ekonom Samuel Asset Management Lana Soelistyaningsih mengatakan, meski tidak berdampak besar bagi hitungan inflasi pemerintah, kenaikan harga dan tarif kebutuhan ini akan menggerus daya beli masyarakat.

Karena itu, kita perlu juga membagi-bagi isi kantong agar tidak tekor dengan kenaikan tersebut.

“Setiap rumah tangga perlu mengukur dampak kenaikan tersebut terhadap pengeluaran keluarga,” kata Ahmad Ghozali, Perencana Keuangan dari Zelts Consulting pada KONTAN, Jumat (6/1).

Tapi jangan panik dulu. Mari mem-break down harga dan tarif yang sedang ramai menanjak ini.

Menurut Ahmad, dampak terbesar akan datang dari kenaikan harga BBM non-subsidi karena saat ini pengguna Premium pun sudah terbatas. Begitu juga dengan listrik, yang akan memukul masyarakat kelas menengah yang paling banyak menjadi pelanggan listrik 900 VA.

Layanan publik seperti tarif administrasi STNK-BPKB yang naik hanya mempengaruhi untuk pembelian mobil baru atau balik nama mobil seken. Jadi cukup terbatas efeknya.

Sedangkan cukai rokok, walaupun dampaknya besar, tapi itu pengeluaran yang bisa dipilih. “Karena merokok itu pilihan beda dengan listrik dan BBM,” katanya.

Nah, sebelum mengatur isi kocek lebih detail, simak dulu beberapa daftar barang yang harganya naik.

Tarif listrik
Mulai 1 Januari, tarif pelanggan listrik 900 VA resmi dinaikkan dari Rp 605/kWh akan naik menjadi Rp 791/kWh. Maret 2017, tarif akan naik dari Rp 791/kWh menjadi Rp 1.034/kWh.
Untuk tahap ketiga, tarifnya kembali dinaikkan dari Rp 1.034/kWh menjadi Rp 1.352/kWh. Barulah penentuan tarif Mei akan normal sampai Juni 2017.
Kalau menurut Kepala Divisi Niaga PT PLN Benny Marbun, rata-rata pemakaian listrik pelanggan 900 VA adalah 126 kWh per bulan, biaya yang harus dikeluarkan si pelanggan dulu Rp 76.230.
Dengan kenaikan tersebut, biaya listrik akan naik menjadi Rp 99.666 per bulan, lalu menjadi Rp Rp 130.284, dan di tahap terakhir menjadi Rp 170.352 per bulan! Secara kasar, biaya listrik akan naik 123%.

Harga BBM  
Untuk BBM non-subsidi, per 5 Januari, PT Pertamina menaikkan harga BBM non-subsidi. Antara lain Pertalite, Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamax DEX. Sedangkan untuk jenis BBM Premium dan Bio Solar harganya sama.
Berikut harga BBM yang baru:
Jenis BBMHarga baruHarga lama
Pertalite7.3507.050
Pertamax8.0507.750
Pertamax Turbo9.0508.750
Dexlite7.2006.900
Pertamina Dex8.4008.100

Pengurusan surat administrasi kendaraan bermotor
Mulai hari ini, Jumat (6/1) biaya pengurusan surat kendaraan bermotor naik 100% - 275%. Kenaikan tarif ini mengikuti diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2016 tentang Jenis dan Tarif atas Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNPB).
Dalam peraturan terkait Penerimaan Negara Bukan Pajak (BNPB), terdapat penambahan tarif pengurusan, antara lain pengesahan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), penerbitan nomor registrasi kendaraan bermotor pilihan, dan surat izin serta STNK lintas batas negara.
Sejatinya, kenaikan biaya ini mengejutkan dan diprotes banyak pihak. Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Nailul Huda menilai, meskipun tarif ini tidak pernah naik 7 tahun terakhir, kenaikan seharusnya tidak langsung sebesar itu.
“Seharusnya naik bertahap dan disertai perbaikan kualitas layanan,” katanya, seperti dikutip dari Kompas.com,  Kamis (5/1).

Dengan kenaikan harga yang seragam dan memberi dampak, Perencana Keuangan Ahmad Ghozali mengenalkan tiga cara.

Step 1: Hitung dampak
Step 2: Ctrl + Alt + Del
Step 3: Cari keseimbangan baru

Tahap pertama, hitung dampak. Penggunaan BBM dan tarif listrik bisa dihitung. Misalnya kenaikan harga BBM Rp X dikali liter rata-rata penggunaan dalam sebulan. Listrik mungkin agak sulit dihitung tapi bisa dibaca polanya mulai bulan depan. Jika merokok, maka kenaikan harga rokok juga bisa dihitung kembali berapa kenaikannya.

Kedua, gunakan jurus ctrl + alt + del (control, alternate, delete). “Rumus ini bisa dipakai untuk mengevaluasi semua pengeluaran,” kata Ahmad.

Kontrol artinya kita mengendalikan pengeluarannya. Misalnya, untuk penggunaan BBM, setelah tahu berapa yang dikonsumsi per bulan, pengguna bisa menghitung penghematannya.

Alternate artinya mencari alternatif atau pengganti. Misalnya untuk BBM, untuk perjalanan jarak menengah di dalam kota Jakarta menggantinya dengan moda transportasi seperti kereta atau busway.

Delete artinya, sebuah pengeluaran bisa saja di-delete alias dihapuskan. Opsi hapus ini bisa diterapkan pada konsumsi seperti rokok.

Ambil contoh terkait kenaikan harga rokok. Misalnya jika dulu dengan Rp 300.000 bisa membeli 15 bungkus rokok, dengan kenaikan harga hanya tinggal 10 bungkus.

Konsumen bisa menambah bujet untuk membeli rokok atau mengurangi konsumsi (kontrol). Tapi, pembelian rokok juga bisa dihentikan atau di-delete.

“Lakukan analisa ctrl + alt + del terhadap semua pengeluaran yang naik, dan hitung kembali berapa dampak kenaikan harga-harga tersebut,” kata Ahmad.

Tahap ketiga, mencari keseimbangan baru. Misalnya, dengan tambah penghasilan untuk menutup pengeluaran tadi, atau mengurangi pengeluaran yang lain, sehingga total pengeluaran tetap sama.

Menambah penghasilan baru bisa dengan berbagai cara yang tentu disesuaikan dengan potensi masing-masing. Bisa dengan sharing tumpangan arah kantor-pulang kalau membawa kendaraan sendiri, atau pekerjaan tambahan, atau menghasilkan uang dari hobi.

Bagaimana caranya memangkas pengeluaran?

Ahmad menyarankan, mulailah dari pengeluaran paling besar, karena memberi dampak terbesar juga jika dilakukan efisiensi.

Misalnya, pengeluaran terbesar adalah belanja bulanan atau groceries, lakukan analisa ctrl-alt-del terhadap groceries. Apakah ada yang bisa dikurangi, diganti alternatif yang lebih murah. “Atau dihapus saja sekalian yang tidak penting,” kata Ahmad.

Dia mengingatkan, investasi tetap harus dilakukan alias tidak bisa dikorbankan. Hanya saja bisa diefisienkan.

Cara lain, memindahkan instrumen investasi yang terlalu banyak di deposito atau produk berisiko rendah ke reksadana yang memberi imbal hasil lebih tinggi. “Tentu dengan risiko yang lbh tinggi juga, jadi sebaiknya dikonsultasikan dulu sebelumnya,” kata Ahmad.






references by kontan

 
Like us on Facebook